Jumat, 29 Mei 2009

Dewi Kuntinalibrata

Gambar : koleksi dari teman

Dewi Kunti adalah putri Prabu Kuntiboja yang mempunyai paras cantik dan cerdas serta ulet dalam belajar. Dalam usia yang sangat muda Dewi Kunti berhadil menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, salah satunya adalah mantra pangarad untuk memanggil para dewa ke marcapada jika dibutuhkan, mantra tersebut dipatkan dari Resi Druwasa.

Sang Resi sudah mewanti-wanti jangan sekali-kali merapalkan mantar tersebut tanpa ada maksud tertentu dan dalam keadaan terpepet. Disinilah sifat iseng dan ingin tahu seorang wanita muda timbul, seuatu ketika saat matahari berada diubun-ubun Dewi Kunti sangat penasaran ingin mencoba mantra sakti tersebut, pada saat merapal mantra tersebut dia melihat kearah matahari, maka yang terbayang olehnya adalah Batar Surya sang peguasa matahari.

Tidak lama setelah itu munculah Batara Surya bersamaan dengan itu seluruh tempat tersebut ditutupi cahaya yang sangat menyialukan, Dewi Kunti terpana dengan kehadiran Batara Surya terutama oleh ketampanannya. Saat Batara Surya beratanya maksud pemanggilanya, Dewi Kunti hanya menjawab sekedar ingin mencoba merapal mantra sakti dari gurunya. Dari pertemuan tersebut tidak dapat dihindarkan lagi terjadi hubungan terlarang yang seharusnya tidak terjadi.

Setelah beberapa lama diketahui Dewi Kunti hamil, maka gegerlah seisi istana dan membuat Prabu Kuntiboja marah besar. Ketika ditanyakan langsung kepada Dewi Kunti dijawab bahwa ayah dari anak yang dikandungnya adalah anak dari Batar Surya, dikarenakan keisengannya merapal matra pangarad dari Resi Druwasa. Mendengar cerita tersebut Prabu Kuntiboaj hanya bisa termenung dan minta nasihat kepada para sesepuh agar terhindar dari aib yang sangat besar tersebut.

Merasa bertanggung jawab atas masalah yang tersebut Resi Druwasa menyaggupi akan meminta pertanggungg jawaban Batar Surya dan mengusahakan kelahiran anak tersebut , tetapi bukan seperti kelahiran biasa melainkan dari telingan kanan Dewi Kunti. Mendengar hal tersebut Prabu Kuntiboja menyetujuinya, selanjutnya Sang Resi memanggil Batara Surya untuk dimintai pertanggungjawabannya, Batara Surya menyuruh setelah anaknya lahir agar dilarung / dihanyutkan di Sungai Gangga. Sebelum proses kelahiran Batar Surya masuk kedalam kandungan Dewi Kunti dan memberikan pakaian ksatria yang disebut dengan Kre Waja kepada bayi tersebut, sehingga pada waktu lahir anak yang kemudian disebut dengan Karna (yang berarti telinga) sudah memakai baju besi yag kebal senjata dan beranti berlian seperti ksatria pada zaman itu. Kre Waja ini selalu menempel dikulit Karna dan selalu berubah ukuran sesuai dengan pertumbuhan tubuh Karna.

Setelah peristiwa tersebut Dewi Kunti benar-benar menyesal dan tidak mau gegabah untuk bertindak, dia semakin banyak belajar dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Hingga akhirnya dijadikan istri oleh Pandudewanata putra Begawan Abiyasa yang menjadi putra mahkota Astinapura. Dari pernikahannya itu lahirlah 3 orang putra yang bernama Yudistira, Bima dan Arjuna. Mereka bersama dengan anak kembar dari madunya (Dewi Madrim) yang bernama Nakula dan Sadewa diseput dengan Panca Pandawa alias Pandawa Lima.

Setelah Pandu wafat dan Dewi Madrim ikut labuh geni (membakar diri) bersama dengan jasad Pandu, disini terlihat kasih sanyang dan keadilan Dewi Kunti terhadap para putranya. Dia tidak pernah membeda-bedakan anak walaupun dua diantaraya bukan anak kandungnya. Mereka mendapatkan perlakuan, kasih sayang dan dasar pendidikan yang sama. Bahkan disaat Pandawa harus dibuang ke hutan selama 13 tahun, Dewi Kunti tetap ikut mendampingi putra-putranya.

Dewi Kuntinalibrata bisa digolongkan sebagai seorang perempua yang sakti mandaraguna, menurut kidalang dia seorang yang saciduh metu saucap nyata yang artinya apa yang dinakatan olehnya akan terjadi. Seperti saat Arimbi yang jatuh cinta kepada Bima tetapi Bima menolak karena wujud Arimbi yang seorang Denawa / Raksasa dan adik dari musuhnya. Hanya saja Dewi Kunti melihat ketulusan dan kesucian dihati Arimbi, dia berkata kepada Bima bahwa sebenarnya Arimbi itu adalah putri cantik bahkan tidak kalah cantik dengan putrid-putri kerajaan lain. Setelah Dewi Kunti berkata begitu seketika itu pula Arimbi berubah dari wujud Denawa menjadi seorang putrid yang cantik jelita.

Dapat diambil pelajaran dari cerita ini bahwa manusia hidup ini selalu dibatasi dengan aturan, sekali aturan itu dilanggar maka kita harus siap menunggu akibatnya. Jangan sekali-sekali kita berbuat iseng dengan ilmu atau pengetahuan yang kita miliki, karena bisa jadi menjadi malapetaka untuk diri kita sendiri. Patuhi apa yang dikatakan oleh orang yang lebih tua, dan amalkan ilmu agar bermanfaat bagi seluruh makhluk. Walaupun seseorang sudah melakukan kesalahan yang termat besar dan sangat-sangat fatal, jika mau untuk bertaubat niscaya hidayah akan datang dalam kehidupannya. Jadikan kesalahan masa lalu sebagai bahan koreksi masa kini dan masa yang akan datang. Yang paling penting perlakukan semua sama jangan dibeda-bedakan, dan bersikaplah adil terhadap siapapun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silakan beri komentar dan terima kasih atas pertisipasi Anda.